Redefining Poverty

Judulnya berasa tulisan yang empiris dan ilmiah. Awalnya memang berniat untuk membuat tulisan dengan metodologi yang jelas, yah seperti penelitian yang sederhana dengan data-data yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, akan butuh waktu lama dalam pengerjaannya karena akan banyak aspek yang akan dimasukan, sementara uneg­-uneg harus dikeluarkan. Jadilah tulisan ini, lebih bersifat curhat saya mengenai konsep kemiskinan dari hasil pengamatan sederhana saya. Tulisan ini murni merupakan pendapat pribadi, jadi kalau ada yang berseberangan paham dengan saya, kita bisa diskusi lebih lanjut ya, supaya bisa menambah ilmu :D.

Mengapa saya tertarik menulis tulisan yang berbau kemiskinan? Penyebab utamanya adalah kegelisahan yang saya rasakan terhadap lingkungan sekitar dan fenomena-fenomana yang ada didalamnya. Masyarakat menganggap bahwa kemiskinin merupakan penyebab awal berbagai tindakan kriminalitas mulai dari copet, perampokan, pembunuhan, kenakalan remaja. Ketimpangan sosial lah yang menyebabkan angka kriminalitas tinggi itu kemiskinan juga menjadi faktor pendukung utama dalam rendahnya partisipasi pendidikan pada kalangan menegah kebawah karena biaya pendidikan yang semakin melonjak tajam. Untuk mendapatkan pendidikan bagus harus berbanding lurus dengan biaya pendidikan yang mahal. Kemiskinan juga menjadi salah satu alasan kurangnya layanan kesehatan bagi masyarakat kelas bawah. (Jujur saya merasa kurang nyaman menggunakan istilah untuk pembagian kelas masyarakat berdasarkan sumber penghasilan mereka, karena menurut saya manusia lah yang mengelompokan manusia lain berdasarkan kategorisasi yang mereka buat. Bisa berdasarkan tingkat kesejahteraan, warna kulit, agama suku dan lainnya. Saya merasa tidak nyaman dengan konsep “others” ini. Namun istilah ini saya gunakan, supaya teman-teman yang membaca dapat lebih mudah membedakannya)

Dari paparan diatas,fenomena yang terjadi adalah kesejahteraan melawan kemiskinan. Benang merahnya adalah uang. Dengan uang, semua fasilitas bisa didapatkan dengan mudah. Semua kemewahan hidup datang pada Anda. Kemewahan, kata ini sepertinya yang harus digarisbawahi selain uang. Fenomena yang saya lihat di lingkungan sekitar bahwa kita tidak bisa terlepas dari kemewahan ini, bahkan kebutuhan pokok masih bisa diabaikan.

Contohnya, beberapa hari yang lalu saya sedang berjalan di jembatan penyebrangan di pinggir jembatan tersebut, ada seorang pemulung yang sibuk memainkan smartphone-nya. Mungkin sebagian akan berpendapat, loh apa salahnya pemulung memiliki smartphone? Apakah smartphone hanya boleh dimiliki oleh mereka yang berduit saja. Mari kita kembali ke konteks tulisan, bisa dikatakan bahwa pemulung ini hidup dibawah standar kesejahteraan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh PBB pada tahun , orang yang hidup dibawah garis kemiskinan adalah mereka yang berpenghasilan kurang dari $1,25 (Rp. 12.500 dengan asumsim $1 adalah 10.000). Dengan asumsi bahwa pendapatan seorang pemulung paling kecil adalah Rp. 12.500 , sebuah smartphone jelas merupakan barang mewah bagi mereka. Dilihat dari segi kegunaannya pun, fitur yang terdapat di smartphone jelas tidak menunjang pekerjaan si pemulung tadi.

Belum lagi, biaya berlangganan pulsa yang dihabiskan untuk smartphone tersebut. Anggaplah harga paket berlangganan kartu pra-bayar yang mendukung untuk penggunaan fitur smartphone tersebut Rp.50.000 setiap bulannya. Hal ini berarti bahwa orang tadi harus menabung selama 5 hari untuk mengisi pulsa selama sebulan. Ini hanya bayangan sederhana saya, pada kenyataannya praktik dilapangan akan jauh lebih kompleks. Namun, apa yang ingin saya gambarkan disini adalah ketergantungan kita terhadap barang-barang meningkat tajam seiring dengan perkembangan zaman. Tetapi, kemampuan kita untuk dapat memilah mana yang paling tepat dan sesuai dengan kebutuhan kita menurun dratis, sehingga kita cendrung mengeyampingkan logika.

Bagi saya ketergantungan terhadap barang-barang sangatlah menyiksa, ketika memiliki uang kita berusaha untuk mendapatkan barang tersebut apapun lah itu yang bersifat materi, namun setelah barang itu kita beli dan habis, kebahagian juga ikut hilang bersamaan dengan itu. Manusia menjadi sangat bergantung akan materi. Saya kelihatan seperti seorang yang anti-kemampanan, saya belum bisa dimasukan pada kategori tersebut, saya bukanlah orang se-ekstrim itu ( mendadak ingat film Into the Wild *hehe intermezo*). Namun, saya jengah dengan lingkungan sekitar yang hanya berusaha untuk mendapatkan harta, kemewahan dan jabatan semata, tanpa memperhatikan dampaknya pada masyarakat.

Pendidikan yang menurut saya merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah ini,malah carut marut. Pendidikan akademis maupun pendidikan moral, keduanya semakin mulai dilupakan tenggelam oleh glamornya dunia kemewahan. Konsep pendidikan yang ditanamkan dari awal pun telah menyeleweng, “Nak, kamu sekolah yang lebih tinggi yaa supaya nanti dapat pekerjaan yang gaji-nya banyak. Nak, kamu jadi dokter ya supaya kaya. Nak, kamu jadi insinyur ya supaya kaya”. Beginilah makna pendidikan yang disusupkan pada kita. Jadi, jangan heran ketika telah lulus nanti banyak diantara para sarjana kebanggaan kita terjebak dengan kemewahan materialistik, sehingga lupa dengan cita-cita awal dari pendidikan untuk kesuksesan bersama.

Saya tidak menyalahkan mereka, saya hanya kecewa dengan diri sendiri yang ternyata belum bisa berkontribusi banyak untuk Indonesia. Saya, seperti kebanyakan yang lain, hanya bisa mengeluh ketika terjadi kejanggalan dalam lingkungan. Apabila, ada seorang ibu yang membiarkan anaknya mengemis dijalanan yang panas sementara, dia sendiri berteduh di bawah pohon yang rindang. Kita hanya melihat sekilas dan berkata” Seperti itulah orang yang tidak berpendidikan dan tidak pernah sekolah.” Selain mengeluh, ada langkah nyata yang bisa kita lakukan, berbagi kepedulian. Berbagi kepedulian bukan berarti memberikan uang pada mereka, tapi ada bentuk lain yang bisa kita cari bersama. Untuk saat ini saya baru bisa menyumbang ide, mudah-mudahan kedepannya saya bisa berkontribusi lebih nyata lagi.

Bagi saya, kemiskinan bukan terletak pada seberapa sedikit uang yang kita miliki. Tapi kemiskinan adalah seberapa sedikit ilmu yang kita serap dan bagi kepada orang lain. Seberapa sedikitnya kita peduli terhadap sesama. Seberapa sedikitnya kita bersyukur dan terlalu sering menyalahkan keadaan. Miskin adalah semakit terakitnya kita pada keabahagian semu yang bersifat materialistik. Dan yang paling penting menurut saya, kemiskinan adalah seberapa seringnya kita membiarkan terhadap hal-hal yang melanggar norma dan peraturan. Seperti, masa bodoh dengan orang yang membuang sampah sembarangan dan tidak merasa perlu untuk antri.

Saya masih masuk dalam salah satu atau beberapa kriteria miskin diatas.Melalui tulisan ini, saya bermaksud untuk introspeksi diri, bukan untuk menggurui karena saya tidak jauh lebih baik. Tulisan ini adalah salah satu bentuk kegelisahan saya terhadap fenomena sosial, mudah-mudahan untuk kedepannya saya bisa membuat tulisan yang lebih komprehensif, berdasarkan dengan data-data yang lebih mendalam J Untuk sekarang baru sebatas menumpahkan gemuruh yang ada di pikiran. Saya akan sangat senang, apabila ada yang meninggalkan pesan untuk berdiskusi. Terima kasih.

 

Fitria Risdayani.

Jakarta, 28 Mei 2014.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mari Memilih Dengan Bijak

Apa Kabar blog ini, sudah lama sekali tidak menorehkan (asiiiiik) ke portal ini. Mulai saat ini berjanji akan memperbaharui tulisan di blog, mudah-mudahan bisa sekali sebulan. Ditemani oleh lagu-lagu Westlife di sore yang gelap karena mau hujan ini, aku ingin menuliskan uneg-uneg ke dalam bentuk tulisan. I will make it as simple as possible, so you guys can enjoy it. ( Oke, cukup pembukaan yang ga penting dan dengan campuran bahasa Inggrisnya, supaya tampak cerdas aja).

Perpolitikan Indonesia sedang ramai, karena pemilu (yang digadang-gadangkan sebagai salah satu pesta demokrasi) akan dilaksanakan dalam beberapa waktu kedepan. Tanggal 9 April yang lalu, masyarakat Indonesia telah memilih untuk anggota legislatif. Saya cenderung skeptis dengan pemilu lalu karena dari pantauan media penyelenggaraan pemilu masih jauh dari baik. Dan KPU pun sepertinya agak kewalahan dalam menangani berbagai kasus yang muncul pada saat pemungutan suara. Terlepas dari berbagai kekurangan pada pemilu 9 April kemaren, KPU telah memutuskan partai pemenang.

Dari 15 partai yang ikut serta dalam Pemilu tahun ini, PDI-P muncul sebagai partai pemenang pemilu dengan memperoleh 18.95% suara*. Untuk bisa mengajukan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, disyaratkan bahwa suara yang terkumpulkan adalah sebesar 20% pada Pemilu Legislatif. Dengan perolehana suara terbesar, otomatis PDI-P (minimal) hanya membutuhkan 1 partal dengan perolehan suara minimal 2%. Simpang siur pola koalisi pun sempat menghias laman media beberapa waktu belakangan ini. PDI-P pun akhinya mengandeng PKB dan Nasdem untuk menjadi kawannya dalam menghadapi pemilu Presiden. Sementara Gerindra berkoalisi dengan PAN, diikuti oleh Golkar (walaupun suara Golkar akhirnya terpecah dua)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesepakatan koalisi ini pun kemudian diikuti dengan pengumuman Capres dan Cawapres dari masing-masing pihak. Koalisi PDI-P mengumumkan pasangan Jokowi-JK untuk maju di Pilpres, sementara Koalisi Gerindra menjagokan Prabowo-Hatta.

Demikian fakta singkat mengenai pemilu 2014. Di bagian berikutnya saya ingin menyampaikan pendapat pribadi mengenai pemilu dan Kampanye Hitam (black campaign). Saya adalah termasuk kelompok orang yang skeptis dengan pelaksanaan Pemilu tahun ini. Mulai dari penyelenggaraan, sampai manuver-manuver politik yang dilakukan. Sebelum koalisi terbentuk, pertemuan-pertemuan antar banyak dilakukan, yang menurut saya tidak hanya sekedar mencari kesepakatan untuk bagi-bagi jatah posisi nanti apabila menang. Kenapa saya begitu skeptis? Berkaca dari pengalaman. Pada Pemilu sebelum-sebelumnya, koalisi tidak lebih dari sekedar bagi-bagi jatah di pemerintahan.

Saya berharap koalisi di pemilu tahun ini, bisa lebih banyak menguntungkan masyarakat Indonesia bukan hanya partai. Saya juga berharap pejabat yang dipilih nanti benar-benar dilihat dari latar belakang mereka dan juga kapabilitas mereka sebagai pemimpin. Selain masalah koalisi saya juga jengah dengan kampanye hitam yang dilakukan oleh beberapa pihak. Dan ini sudah masuk ke ranah SARA.

Salah satu akun anonim terkenal pernah mengupas secara habis mengenai keburukan masing-masing capres, baik Jokowi dan Prabowo. Latar belakang keluarga dan agama Jokowi dipertanyakan dalam tulisan tersebut. Dan sudah sangat menyudutkan menurut saya, tidak hanya Jokowi, kehidupan Pribadi Prabowo juga dikupas habis. Niat baik memang tidak selalu dianggap baik, saya berprasangka baik bahwa akun anonim tersebut berniat untuk memberikan masukan pada masyarakat siapa calon pemimpin mereka. Namun, penyampainnya menurut saya begitu negatif, seakan-akan kedua Capres tersebut tidak pernah berbuat baik untuk Bangsa Indonesia. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelangga, hal inilah yang terjadi kepada kedua calon pemimpin.

Mari menjadi pemilih yang bijak dengan melakukan penelitian tersendiri untuk masing-masing capres, bukan hanya sekedar membaca media ataupun akun anonim. Banyak laman resmi pemeritah yang menyediakan informasi untuk masing-masing calon. Mari sedikit berusaha untuk mencari tau, masa depan Indonesia 5 tahun kedepan ditentukan pilihan kita hari ini. Lihat visi-mis masing-masing calon, dan mari kita kawal bersama-sama siapapun pemenangnya nanti. Kita terlalu banyak dijanjikan berbagai macam perubahan, namun patut dicatat bahwa untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik jangan berharap hal ini bisa dilakukan dalam jangka waktu 5 tahun, butuh waktu lebih lama dari itu. Namun, setidaknya untuk kondisi lima tahun kedepan bisa sedikit lebih baik bukan alih-alih mengharapkan Indonesia menjadi negara maju. Itu utopis menurut saya.

“The darkest places in hell are reserved for those who maintain neutrality in time of moral crisis” diambil dari Tulisan Dante Alighiere oleh Dan Brown dalam bukunya, Inferno. “ Tempat terburuk di neraka pantas disediakan untuk mereka memilih jalur netral pada masa krisis moral” Mengapa? Karena orang-orang ini tidak membawa perubahan yang lebih baik, hanya sekedar mengkritik dari jauh tanpa ikut berkontribusi. Sama halnya menurut saya bagi orang yang memilih secara asal-asal, ikut-ikutan teman atau memilih kerabatnya sendiri, karena ada kepentingan bersama Indonesia yang dilupakan.

 

Tulisan ini juga menjadi pengingat bagi saya untuk memilih dengan bijak. Jangan lupa cari tau dulu ya siapa yang kamu pillih (asiiiik berasa iklan).

Sumber: http://www.kpu.go.id/index.php

 

Fitria Risdayani,

Jakarta, 22 Mei 2014.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

“Ga Semua Yang Lo Liat Itu Benar”

Judul diatas dipetik dari sepenggal iklan, yang lupa iklan produk apa. Tapi kalimat diatas sering diucapkan dan menempel di dalam ingatan. Walaupun kalimat sebenarnya adalah ” ga semua yang lo dengar itu benar”, namun kata liat dan dengar bagi saya dalam konteks ini memrepresentasikan hal yang hampir sama.

Seberapa seringkah kita menilai hanya dari sudut pandang sendiri dan menampikkan pandangan orang lain. Seakan-akan kita adalah orang paling benar sedunia dan pendapat orang lain salah. Saya bukan manusia super yang tidak pernah melakukan kesalahan, sampai saat ini saya masih sering menilai dan menghakimi orang lain hanya dari sudut pandang saya saja. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan teman-teman bahwa mencoba untuk melihat dari sisi yang lain juga diperlukan. Tidak selamanya pendapat kita , adakalanya kita terbawa emosi dalam menentukan sesuatu. Contohnya, ketika kita benci pada seseorang apapun yang dia lakukan akan selalu salah di mata kita. Walaupun yang dilakukan sebenarnya tidak menyalahi aturan ataupun menganggu orang lain. Pendapat kita sudah dicemari oleh perasaan negatif, sehingga kita selalu mencari sisi buruk dari tindakan orang tersebut. Lain halnya, jika orang itu adalah orang yang kita sayangi, maka kitapun cenderung menutup mata atas kesalahan yang dibuatnya. Selalu ada alasan untuk memaafkannya (sampai pada taraf tertentu). Pernahkah kita memberikan kesempatan yang sama kepada orang yang kita benci, untuk memperbaiki kesalahannya? atau setidaknya mencoba berpikir bagaimana seandainya menjadi orang tersebut.

Ga semua yang lo liat itu benar, juga bisa direpresentasikan dalam bentuk yang lain. Yaitu membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Sering kali kita berkata ” lo mah enak, orang tua kaya lo kaya jadi bisa sekolah tinggi” ” lo mah enak tinggal nyuruh doang, yang kerjain kan gue”. Ini beberapa kalimat yang sering keluar dari mulut kita, sekilas terdengar sebagai bentuk kecemburuan terhadap apa yang telah orang lain capai dan mengeluh terhadap keadaan yang sedang  menimpa  kita. Saya pun dulu sering membandingkan keadaan saya dengan orang lain, dan menjadikan keadaan ini sebagai alasan dan kambing hitam atas kegagalan kita. 

Saya mempunyai sepupu (yang memang pintar dari kecil) yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3-nya diluar negeri. Sepupu ini satu tahun lebih muda dari saya, Diumurnya yang begitu muda sudah banyak hal yang dicapainya (terutama di bidang akademis) sehingga kecemburuan itu muncul perlahan-lahan di dalam diri. Saya kemudian menyalahkan keadaan, dan selalu beralasan ” habis dia pintar sih” ” dia kan dapat beasiswa makanya bisa fokus”. Saya baru menyadari betapa salahnya saya dalam menilai sepupu saya itu, ketika menemukan secarik kertas di kamarnya yang berisikan daftar mata kuliah yang dia ambil. Di setiap mata kuliah tersebut, dia menuliskan target yang akan dia capai semester ini dan dia tidak main-main dalam menentukan standar targetnya. 

Ketika melihat barisan angka target tersebut saya tersentak. Ooo jadi ini yang dilakukan selama ini untuk mencapai kesuksesan sekarang. Dia berjuang mati-matian untuk memperoleh tersebut. Mungkin tidak terhitung lembaran kertas yang digunakan untuk corat-coret catatan dan tugas kuliah. Tidak terhitung  malam yang tidak dia lewati untuk bergadang. TIdak terhitung sujud yang dia panjatkan untuk mengharapkan keridaan. 

Saat itu saya mulai sadar, bahwa memfokuskan diri pada orang lain tidak akan berdampak apa-apa terhadap kemajuan kita. Belajar untuk fokus terhadap diri sendiri dan apa yang dicapai dalam hidup ini merupakan salah satu cara untuk menikmati hidup. Kita juga tidak pernah tau bagaimana orang itu menjalani kehidupannya, bagaimana dia berjuang untuk mendapatkan apa yang ada dihadapannya. Kita tidak pernah tau, berapa banyak tetes keringat dan air mata yang jatuh untuk memperjuangkannya.

 

Jadi, ga semua yang liat itu benar. Stop menghakimi orang lain, stop membandingkan diri dengan orang lain. Stop menilai bahwa hidup orang lain lebih mudah dibandingkan kita. Stop menyalahkan keadaan, dengan begini berarti kita bisa menghargai diri sendiri.

 

Catatan ini tidak bermaksud untuk menghakimi siapa-siapa, hanya sebagai pengingat diri. Karena sampai sekarang saya masih luput dalam khilaf bahwa “ga semua yang lo liat itu benar”

 

Jakarta, 30 Oktober 2013

FR

 

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Bridget Jones’s Diary (of mine??)

Image

For the last weekends, I’m currently reading the novel, Bridget Jones’s Diary. Actually, not knowing too much what the book was about. Quite familiar with the title, back in 2000’s the movie it self was popular (enough?), though I do not  watch the movie. From what I know ( I read somewhere, probably in magazine) this is story about single carrier women struggle with her love life. 

Last week I decided to buy the novel, start reading it per page. And wow!!!  like I read my own life in the novel (except for smoking, alcohol and sex part). This is what women thinking  about, when they fall in love with someone. How women struggle to keep weight under control *sigh* it’s hard though. And things going on with their best friend. Actually, women can’t keep secret from their bestfriends, especially when they’re in love. They probably tell the whole story between their lover *it’s true*

I just finished the novel today and it enlight me.I finally realize, that I have been in such denial situation about my love life.  Denial. I just could not see it. Well, it’s time to forget it then let’s start new beginning. I’m tired.

It’s my story for this weekend. Gotta go to bookstore 🙂

cheers.

F.R

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar dari Hal Kecil

Saya tidak pernah membayangkan untuk benar-benara tinggal dan hidup di ibukota, Jakarta. Dulu hanya sebatas angan-angan, yang rasanya masih jauh untuk bisa diwujudkan. Namun, jalan takdir tidak ada yang dapat menebaknya. Disinilah saya sekarang, di Jakarta. Ada dua pengalaman menarik yang saya dapatkan belakangan ini, yang saya pikir tidak akan saya dapatkan di kota ini.

Semenjak sekolah dulu saya memang suka menyimak dan menikmati percakapan ibu-ibu dalam angkutan umum. Ibu-ibu ini biasanya sama sekali tidak saling kenal, tapi begitu menemukan satu topik yang bisa menjadi perhatian mereka jangan ditanya kehebohan apa yang akan kalian dapatkan selama perjalanan. Mulai dari percakapan tentang anak-anak mereka, masalah pendidikan, harga kebutuhan pokok di pasaran terkadang masalah politik. Begitu menarik mengamati mereka.Dua kejadian yang saya tuliskan disini pun berkaitan dengan orang-orang di angkutan umum yang bisa menyentuh  hati saya, walaupun kita sama sekali tidak saling kenal.

Kejadian pertama, terjadi beberapa hari yang lalu sepulang saya bekerja. Seperti biasanya untuk sampai ke kosan saya harus naik angkot. Keadaan sore itu hujan dan macet, sementara angkot yang ada sedikit. Perlahan-lahan angkot yang saya tumpangi menyusuri jalur trayeknya di tengah kemacetan. Suasana di angkot juga sudah tidak nyaman karena terlalu banyak orang, panas dan sesak. Semua jendela ditutup karena hujan, otomatis satu-satunya sumber udara yang bisa masuk ke angkot ya dari pintu masuknya. Namun itu tidak seberapa bisa membantu mengurangan kepanasan di dalam angkot. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana secepatnya sampai di kosan dan bermalas-malasan.

Di perempatan angkot itu berhenti karena ada beberapa yang turun dan ada juga yang naik. Yang pertama kali naik angkot itu adalah seorang anak perempuan yang berumur sekitar 6 atau 7 tahun dengan pakaiannya yang sudah basah kuyup. Anak itu duduk disamping saya sementara ibunya duduk di bangku kecil dekat pintu masuk. Tidak berapa lama kemudian angkot tersebutpun jalan,  saya merasa kasihan dengan anak kecil itu karena bajunya yang basah, bisa-bisa sakit dia nanti. Secara tidak sengaja mata kami bertemu karena saya kebetulan sedang memperhatikan anak kecil itu. Saya pun tersenyum. Dia pun balas senyum saya.

Apa menariknya dari seorang anak kecil yang membalas senyum seseorang di angkot? Bukankah itu hal yang lumrah terjadi? Memang itu hal yang sering kali terjadi, tapi senyum anak kecil itu mampu menggetarkan hati saya. Dia memberikan senyum yang paling tulus, senyum yang berasal dari hatinya sehingga mata anak kecil itu juga ikut tersenyum. Ketika melihat senyum itu sontak hati saya tersentak, air mata merebak. Terdengar berlebihan tapi itulah yang saya rasakan pada saat itu. Saya langsung berpikir, kapan terakhir kali saya tersenyum setulus itu? bahkan pada orang yang belum saya kenal?

Saya baru mengerti dan menyadari ucapan Nabi Muhammad SAW bahwa senyum itu adalah bagian dari sedekah. Karena senyum yang tulus akan memberikan kebahagian dan keceriaan untuk orang lain. Mulai saat itu saya bertekad untuk tersenyum, mencoba memberikan senyum yang paling tulus untuk orang-orang yang saya temui. Mereka tidak perlu tau bagaimana resah hati yang sedang saya rasakan, tapi saya akan berusaha untuk memberikan kebahagiaan. Walaupun seutas senyum. Mari belajar dari anak kecil tersebut.

Kejadian kedua yang menarik terjadi kemaren, ketika saya akan menuju Depok dari Pasar Minggu. Pertama kali ke UI-Depok 5 tahun yang lalu, itupun bersama teman. Kemaren saya harus ke UI menghadiri wisuda sahabat, naik angkot dan sendiri. Kata teman saya nanti turunnya di daerah kober. hmmm, kober ya?sepertinya 5 tahun yang lalu saya kesana. Seperti apa ya sekarang? Saya berencana untuk duduk di samping supir. Tapi berhubung penuh saya terpaksa duduk di belakang. Terbayangkan apa yang saya rasakan, tidak tahu jalan dan tidak tahu tempat berhenti. Mau nanya, kiri-kanan bapak-bapak semua. Masih belum berani. Akhirnya laki-laki disebelah kanan saya turun dan ibu-ibu yang tadi duduk di bangku kecil depan pintu masuk pindah ke samping saya. Saya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

Saya: Ibu, permisi. Nanti kalau mau ke kober saya berhenti kemana?

ibu : Kober?? daerah mana itu?

Saya: *dalam hati* mampus. salah tanya orang. sepertinya ibu ini tidak tahu kober. Tambah deg-deg an.

Ibu: Mau kemana?

Saya: Ke UI bu.

Ibu : Oooo, nanti berhenti di es pocong. *Tiba-tiba berteriak ke supir* Bang nanti berhenti di kober yaaah.

Supir : Belum Kober.

Tidak berapa lama kemudian si ibu teriak lagi ke supirnya. Mungkin melihat muka bingung saya.

Supir : ini kober

Ibu : berhenti dulu Pak, ini anak saya mau turun.

Hati saya kembali tersentak, tidak menyangka ibu itu akan sepeduli itu terhadap saya. Sebelum turun saya mengucapkan terima kasih ke ibu tersebut.

Saya mulai belajar, bahwa hal-hal kecil yang sudah sering kita lupakan ternyata bisa menggetarkan hati orang lain. Kita cenderung menargetkan untuk melakukan hal-hal besar, sehingga melupakan hal-hal kecil. Padahal hal besar itu pun berangkat dari hal kecil. 🙂

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Satu

Ucap kita tak selalu sama.

Namun, kita satu dalam cinta.

Tanah yang kita pijak berbeda rupa.

lihatlah langit masih saja satu.

Kau, aku, antara dan.

tapi tetap satu.

arah kita berbeda.

jalan yang kita lalui satu.

sayap patah terajut.

Satu dalam tubuh.

Cinta pun satu dalam kesatuan yang abadi.

Hujan datang bersamaku.

Kau datang bersama angin.

Satu dalam Badai Cinta.

 

Fitria Risdayani.

Jatiwangi, 22 Mei 2012

Posted in Puisi | Leave a comment

Dua Sisi Pengacara.

Saya baru saja menonton drama Jepang yang bercerita tentang lingkup kerja pengacara. Ketika menonton drama ini, muncul satu pertanyaan dalam benak saya, ketika seorang pengacara melakukan tugasnya apakah dia akan membela kebenaran atau membela apa yang dianggap benar oleh kliennya? Pertanyaan ini terdengat sedikit naif apalagi ketika sudah berkaitan dengan pekerjaan (yang ujung-ujungnya akan selalu melibatkan uang).

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia membutuhkan uang, namun uang dan kemewahan bukan tujuan utama manusia untuk hidup. Uang ini sangat berkaitan dengan sebuah profesi, bagi seorang pengacara apakah tujuan utama mereka mengejar uang atau idealisme mereka? saya tentu tidak dapat menjawab pertanyaan ini karena saya bukanlah seorang pengacara maupun orang yang terlibat dalam bidang hukum. Tujuan saya untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan ini sekedar menyalurkan kegelisahan pemikiran.

Ketika seorang pengacara mengambil kasus, apakah mereka meneliti terlebih dahulu kebenaran pernyataan klien mereka atau langsung menyetujui untuk membela klien tersebut sesuai dengan bayaran yang mereka terima sebagai imbalan atau adakah motif lain yang melatar belakangi seorang pengacara untuk membela seorang klien. Anggaplah seorang pengacara membela kepentingan seorang klien setelah melakukan pengecekan terlebih dahulu dan dari hasil survey-nya  alibi si klien dapat dibuktikan dan dipertanggung jawabkan, tentu tidak akan ada masalah ketika si pengacara  membela posisi si klien dan mendapatkan imbalan yang layak karena usahanya tersebut.

Namun, apabila si pengacara telah melakukan pengecekan (ataupun tidak sama sekali) memutuskan untuk membela si klien hanya karena imbalan yang ditawarkan besar, apakah ini kemudian menyalahi  norma yang berlaku? Toh, pada kenyataan si pengacara tetap dapat hidup diterima oleh lingkungan sosialnya.

Pelajaran yang saya dapat adalah apapun tindakan dan pekerjaan kita, tergantung dari prinsip-prinsip yang kita pegang. Kedua pengacara diatas sama-sama memegang idealisme mereka, tapi konsep dan prinsip tentang kebenaran yang mereka memiliki berbeda. Salahkah? silakan putuskan sendiri. Setidaknya saya belajar untuk tidak memberikan penilaian dini terhadap seseorang, karena semua orang memiliki konsep kebenaran yang berbeda-beda. Yang saya lakukan adalah membela apa yang menurut saya benar sesuai dengan prinsip dan norma yang saya anut namun disaat yang bersamaan juga berusaha untuk mentolerir perbedaan.

Pendidikan mahal, biaya untuk mendapatkan keadilan juga mahal. Tapi, saya rasa jangan jadikan uang dan kekayaan alasan sebagai alasan untuk kita untuk maju melangkah kedepan. Memang kita terkadang kalah oleh sistem yang korup, namun sekarang kita harus mencoba untuk menjalani sebuah kehidupan yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip kehidupan. Saat ini perubahan dari satu orang mungkin belum bisa berdampak secara langsung, namun seiring dengan berjalannya waktu orang-orang disekitar kita juga akan terpengaruh.

Saya sedang belajar adil terhadap diri sendiri. Seperti dua sisi pengacara diatas, tergantung jalan mana yang kita pilih, tinggal kita jalani dengan sungguh. Adil untuk belajar secara perlahan-lahan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Berusaha adil untuk tidak melakukan penghakiman terhadapan tindakan orang yang berbeda dengan kita, karena yang kita lihat hanya dipermukaannya saja tidak pernah tau alasan tindakan mereka.  Pada akhirnya saya mengerti bahwa keadilan hanya milik Tuhan Yang Maha Agung, Allah SWT.

Posted in Uncategorized | Leave a comment